Minggu, November 30, 2008

Angguk2, Geleng2 (II)




“Do you need a ride?”Rio menawarkan tumpangan.

“Only if don’t mind!” jawabku.

Dia lansung membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan aku masuk. Senang sekali, seumur hidupku, hanya dia yang memperlakukanku seperti seorang putri. Tidak ada hal yang terlalu berubah darinya, kecuali fisiknya. Dia bertambah tinggi, rambutnya agak panjang, tapi walaupun begitu, dia terlihat lebih rapi dari yang dulu. Dia yang sering bolos mata pelajaran fisika dan Bahasa Indonesia ini. Tidak disangka sekarang pakai jas.

“Kamu cari kantor apa?”tanyaku.

“Aku mau mengurus visa, kamu tau dimana?”

“Ga!” jawabku malu.

“Katanya mau ke Australia, visa aja ga punya! gimana ne?” dia meledek.

“Ya…. itu bisa diatur nanti! pengumuman lulusnya juga masih dua bulan lagi.”

“BTW, aku lapar neh, kita cari makanan dulu ya!” ajaknya.

“Boleh, aku juga belum makan.” jawabku spontan.

Kami pergi ke “House Tea”, Satu-satunya tempat yang menyediakan “Tenderloin Steak” kesukaannya.

“Selama ini kamu kemana?” aku mulai menyelidiki.

“Kenapa? kamu pusing nyariin aku ya?” kemudian dia tertawa.

“Jangan becanda terus, aku serius! sejak pesta perpisahan SMP, kamu menghilang dan tidak pernah memberi kabar. Sekarang kamu muncul lagi, wajar donk aku nanya!”

“iya nona! orangtuaku pindah tugas ke London. Mereka memutuskan pergi setelah pesta perpisahan itu. Semuanya sangat tiba-tiba. Aku ga sanggup kasih tahu kamu karena aku takut kamu sedih, trus nangis.” dengan ekspresi yang datar.

“………………” sekarang aku yang terdiam.

“Maaf dech! aku tahu aku salah. mukanya jangan ditekuk gitu donk!” bujuknya.

Aku hanya tersenyum. aku tidak tahu harus berkata apa. Cinta pertamaku tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar. Sekarang dia kembali lagi, ada di depanku, dan sangat nyata. Aku ingin sekali memaki-makinya, memukulinya dan mengahajarnya. Tapi aku hanya membatu, tidak berbuat apa-apa, bahkan tidak berkata sepatah pun.

“Sekarang kamu tinggal disini.” tanya Rio, begitu sampai di depan rumahku.

Aku hanya mengangguk. Aku bergegas keluar dari mobilnya. Dia pun segera menyusul dan menahanku agar tidak masuk rumah.

“Kamu kenapa? setelah makan, kamu diam saja. Kamu sakit?” Dia terlihat cemas.

“Apa aku sama sekali tidak berarti buat kamu?”

“Kenapa berkata seperti itu, aneh banget!” tanyanya sambil bercanda.

“Sejak kamu pergi, apa kamu pernah memikirkanku? apa kamu tau rasanya kebingungan? tidak ada penjelasan dan tidak ada berita. Aku pikir saat kita bertemu, kamu akan meminta maaf, menyesali semuanya dan menjelaskan alasan kamu pergi dengan serius. bukan seperti yang terjadi hari ini.” air mataku spontan keluar.

Rio terus melihatku dengan pandangan haru, dia memegang erat tanganku.

“Air matamu adalah hal yang paling aku takuti di dunia ini. Tolong jangan salah paham, aku sama sekali tidak ingin melukaimu. Aku bahkan tidak pernah melupakanmu.”

“Aku melihatmu saat di Bandara, kamu berjalan tepat di depanku. Kamu sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Bahkan hari ini, Kamu tidak mengenaliku sampai aku menyebutkan namaku. Kamu masih bisa bilang tidak pernah melupakanku?” Gerutuku sambil menangis

Seraya melepaskan genggamannya, aku berlari ke dalam rumah. Aku hempaskan tubuhku di tempat tidur. Air mataku tidak mau berhenti. Sampai akhirnya aku tidak sadar telah tertidur.

***

“kring…kring…” hape-ku berbunyi.

Kelopak mataku berat sekali. Aku merasa baru saja menutup mata dan sekarang sudah harus bangun lagi.

“Hallo….” nada mengantuk.

“Pemalas,.. Baru bangun ya?”

Rio?” tanyaku spontan.

Rio siapa?”

“Ted…. maaf aku pikir temanku!” jawabku.

“Kenapa kemaren ga kasih kabar? ujiannya gimana?”

Ya ampyun… aku lupa. Seharusnya aku mengabari Ted kemaren. Semua ini karena Rio, seisi kepalaku dipenuhi olehnya.

“Lancar, aku capek banget makanya lupa kasih kabar ke kamu!”

“Oh, aku pikir terjadi sesuatu. Seingatku kamu sangat antusias kalau cerita, ga penting sekalipun pasti diceritain. Seharusnya, kemaren kamu akan datang mencariku untuk pamer. Ternyata ga, makanya aku merasa aneh.”

“Hehe… tenang, cuma kelelahan kok. Ujiannya lama banget!”

“Kamu sakit?”

“Ga” jawabku spontan

“Kenapa?” lanjutku.

“Ga biasanya kamu ngomong cuma satu kalimat!” Ted heran.

“Ah,.. maksudnya apaan neh! ngeledek ya? Jahat…” nadaku ketus.

“Haha… akhirnya.” dia tertawa terbahak-bahak.

“Ga lucu.” tambah ketus.

“iya, maaf dech! nanti aku jemput ya. kita jalan-jalan!” bujuknya.

“Gimana ya,.. berhubung ga ada kerjaan, ga apa-apa dech!”

“Huh, padahal maunya tuh!” Ted benar-benar meledek.

“iiiih,… udah ya, aku mau mandi.” alasanku menutup telpon.

“Yup, bye say!”

“Bye.”

Tepat jam satu Ted sudah menungguku. Dia ingin mengajakku ke Bukittinggi. Kami akan mengunjungi teman-temannya di kebun binatang. Sudah lama aku tidak kesana. Terakhir, saat kelas dua SMP dengan keluar besar. Setelah itu tidak pernah lagi. Pergi dengan teman-teman pun rasanya tidak mungkin. Semakin dewasa, semakin banyak tempat bermain yang tidak dapat dikunjungi kecuali kamu sudah punya anak atau sedang pacaran.

Ketika kami akan berangkat, tiba-tiba ada CR-V berwarna hitam berhenti di dalam rumahku, Itu Rio. Aku tidak tahu kenapa dia datang, tapi yang pasti ini bukan saat yang tepat. Dia keluar dari mobil dan melihat ke arahku dan Ted.

“Dia siapa Vrea?” tanya Ted heran.

“Ga tahu!” jawabku sambil memalingkan muka.

Rio malah menghampiri kami dan menyapaku. Pangdangannya sangat berbeda, terutamata pada Ted.

“Kenalkan, aku Rio. Teman SMP Vrea.” seraya memberikan tangannya pada Ted.

“Ted, pacar Vrea!”

“Oh, kamu yang namanya Rio!” lanjut Ted.

Rio lansung melihat ke arahku. Aku tidak berani memandangnya, aku hanya melihat ke bawah. Menghitung-hitung jumlah kerikir yang ada di bawah kakiku.

“Sebenarnya Ve sedang marah padaku, karena sebagai teman lama kemaren aku tidak mengenalinya. Makanya sekarang dia ngambek!” jelas Rio pada Ted.

“Apaan sih!” dia benar-benar memancing kemarahanku.

“Oh, pantas saja. Tenang saja bung, nanti juga dia baikan!” bela Ted.

“Syukurlah kalau begitu.” kata Rio.

“Kami mau jalan-jalan, kamu mau ikut?” ajak Ted pada Rio.

“Lain kali saja, aku masih ada urusan!” tolak Rio

Rio pergi begitu saja. Dia tidak menanyakan hal lain. Dia pun segera menghilang dengan mobilnya. Sedangkan Ted, sepertinya dia sama sekali tidak curiga. Dia bahkan tidak bertanya tentang Rio selama kami bepergian. Syukurlah, paling tidak aku tidak perlu panik mencari-cari alasan untuk menjelaskannya pada Ted. Semoga, semuanya baik-baik saja sampai akhir.

***

Kencan itu, apa ya? ga bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti sangat menyenangkan. Saat kencan kita tidak akan merasa lelah walau jalan kaki seharian. Panasnya matahari bahkan tidak jadi masalah, karena sedang berada di bukittinggi.

Tepat jam sembilan malam aku sampai di rumah. Aku segera mandi, shalat isya dan tidur. Belum sepuluh menit aku menutup mata, hapeku bunyi. Mungkin itu Ted, dia ingin mengucapakan selamat tidur. Dengan mata tertutup aku mengangkat telpon,

“Tenang aja, aku lansung tidur kok!” jawabku spontan.

“Ve, ini aku Rio!”

Mataku yang tadinya tidak bisa dibuka lansung menyala 20 watt , saraf-saratku yang sedang lemas lansung tegang.

“Kamu? ngapain lagi telpon-telpon? dapat nomorku darimana?” ucapku ketus.

“Pertanyaannya buanyak amat? aku lihat di buku tahunan SMP. aku Cuma iseng, ga disangka ternyata kamu masih pakai nomor ini! Sekarang kamu dah punya pacar? aku pikir kamu akan menungguku?”

“Orang bodoh mana yang mau nungguin orang yang perginya ga jelas? Lagi pula, yang terjadi diantara kita cuma sekedar cinta monyet.” aku jadi sakit hati.

“Trus, kenapa waktu itu kamu nangis?”



Bersambung......