Minggu, November 30, 2008

Angguk2, Geleng2(III)



Benar juga? kenapa aku nangis di depan dia ya? emang sih, sewaktu dia pergi aku sedih banget. tapi, lama-kelamaan rasa sedihku hilang sendiri, aku bahkan tidak pernah memikirkannya lagi sejak bertemu Ted. Trus, kenapa waktu itu aku nangis ya?

“Hallo…”

“Ve, hallo…, kamu masih hidup kan?” Rio kebingungan karena aku diam saja.

“Aku mau tidur, dah dulu ya!” tanpa pikir pajang, aku lansung memutus telpon.

Sejak malam itu, semuanya jadi berubah. Rio menelponku hampir setiap malam. Dia menceritakan hal-hal yang dia alami sepanjang hari, menanyakan keadaaku, aktivitasku atau hanya sekedar mengucapakan selamat malam. Dia paling bisa membuatku tersanjung dan dia tidak pernah kehabisan topik buat diomongin.

Suatu kali, Rio bertanya padaku, dia menanyakan hal yang membuat kisah hidupku jungkir-balik.

“Kamu dan Teddy sudah kenal lama?” tanya Rio membuka pembicaraan.

“Hampir, tiga setengah tahun.”

“Apa dia tahu, aku sering menghubungi kamu?”

“Kenapa bertanya seperti itu!?” sebenarnya Dia ini kenapa?

“Aku Cuma ingin tahu, apa dia penah memarahimu atau apa kalian pernah bertengkar hebat?” Rio seperti sedang menyelidiki sesuatu.

“Memangnya kenapa?” tanyaku heran.

“Seberapa dalam kamu mengenalnya? dan apa kamu benar-benar serius dengannya?” tanya Rio sangat antusias.

“Aku tahu kegiatannya, aku juga kenal keluarganya! sebenarnya kamu ini kenapa? kamu mulai membuatku takut!”

“Dengarkan aku baik-baik! kalau kamu tidak menyukainya, kenapa kamu terus bersamanya? apa kamu merasa bahagia di sisinya?”

Aku tidak sanggup membalas perkataanya itu. aku hanya terdiam, pikiranku melayang kemana-mana.

“Ve, Aku tidak mau hanya menjadi temanmu. Aku ingin cinta monyet kita dulu dilanjutkan menjadi kisah yang nyata. Aku tidak mau hanya mendengar suaramu dari telpon. Aku tidak sanggup harus terus melihatmu dari jauh! aku ingin kita bersama lagi.”

Rio, aku tidak…..” entah apa yang ingin aku katakan, apa aku harus menolak atau menerimanya?

“Aku tidak tahan lagi, aku ngantuk banget. aku mau tidur” aku mencari-cari alasan untuk menghentikan pembicaraan aneh ini.

“Aku mengerti, tapi tolong pikirkanlah baik-baik perkataanku tadi.”

Aku tidak menjawab, Telponnya lansung aku matikan dan kulempar ke dalam keranjang pakaian kotor. Kemudian, aku ambil selimut dan kukubur diriku didalamnya. Seolah-olah semuanya akan baik-baik saja. Namun, semakin aku memejamkan mata, pikiranku semakin kacau.

“Whhuaaa…… bagaimana ini?” teriakku.

Aku terus memikirkan pertanyaan Rio tadi. Apa aku benar-benar mengenalnya? Tentu saja. Aku tahu keluarganya, dia Cuma punya tante Anne. Aku tahu kisah kematian orangtuanya dan aku tahu kegiatannya sebagai mahasiswa kedokteran. Ya tuhan,…. Rio benar, aku sama seklai tidak mengenalnya. Semuanya itu, semua teman-temannya juga pasti tahu.

Oh, aku tahu dia suka makan ayam. Dia paling lahap kalau makan di KFC, tapi, sebenarnya aku juga ga yakin. Dia selalu lahab walau Cuma makan gorengan. Ted itu,…. bagaimana ya? Dia akan menagis kalau sedih, dia tersenyum kalau senang dan tertawa kalau aku marah-marah, Itu aja. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Selama ini aku kemana aja ya? aku bahkan tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Sudah lewat jam 12 malam, tapi mataku tidak bisa ditutup. Aku tidak tahan lagi, aku keluar dari selimutku dan segera mencari-cari hape yang telah kulempar tadi. Aku ingin bicara dengan Ted. Aku tidak peduli, walaupun hari sudah tengah malam.


“Hallo…” jawab Ted di telpon.

Suaranya tidak seperti orang yang sedang mengantuk.

“Kamu belum tidur?” tanyaku heran.

“Belum, aku sedang mengerjakan laporan. kamu sendiri?”

“Aku tidak bisa tidur?”

“Kenapa?”

“Pikiranku melayang-layang, makanya tidak bisa tidur. Apa aku ganggu?”

“Ga donk, bagus juga kamu nelpon, aku jadi bisa istirahat sebentar.”

Aku hanya merespon kalimatnya dengan tertawa kecil.

“Maaf ya, beberapa hari aku tidak ke rumahmu. Aknir-aknir ini, banyak sekali tugas! Aku harus bergiat, biar biar nyusul kamu.”

Aku tidak menyadarinya, beberapa hari ini kami tidak pernah bertemu. Perhatianku hanya tertuju pada Rio.

“Menyusul kemana?”

“Seminggu lagi kamu wisuda kan? aku harus rajin belajar agar bisa cepat wisuda juga.”

Aku bahkan tidak ingat kalau aku akan wisuda minggu depan. Ted sangat memperhatikanku, dia selalu menjagaku. Dia memperhatikan semua hal yang ada padaku, sedangkan aku?

“Oh iya, Santai aja. Serajin apa pun kamu, paling cepat juga dua tahun lagi, ya ga!?”

“Hhmmm… Sombong…!”

“Loh, itu memang kodratnya mahasiswa kedokteran kan?” aku membela diri.

Ted hanya tetawa. Dia sama sekali tidak marah. Lebih tepatnya dia tidak pernah memarahiku.

Apa yang telah kulakukan selama dua bulan ini. Aku malah memikirkan orang lain.

“Hei, kenapa diam saja, kamu ketiduran!?” Ted heran.

“Ted, kenapa kamu menyukaiku?” kalimat itu muncul begitu saja.

“Entahlah, mungkin karena aku hampir gila.” jawabnya bercanda.

“Eh, aku serius!”

“haha,.. serius sekali.”

“Awalnya aku juga ga yakin, semakin dekat sama kamu aku semakin merasa nyaman. Setiap tindakanmu sangat menarik perhatianku. Semua ucapanmu membuatku bahagia dan tenang. Aku bahkan lupa dengan kesedihanku saat bersamamu. dan…”

“Dan, apa?”

“Aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia. Walaupun kamu tidak pernah mengharapkannku.”

Air mataku mengalir sangat deras. Aku adalah orang yang paling jahat di dunia ini. Aku hampir saja menyia-nyiakan orang yang sangat menyayangiku.

“Kenapa menagis, kamu tidak seperti biasanya?” lanjut Ted.

“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf.” Aku memohon sambil menangis.

“Kenapa?”

Aku tidak berani menjawab pertanyaannya, aku takut dia terluka.

“Apa karena Rio?”

Aku sangat terkejut dia bisa menebak pikiranku.

“Kenapa kamu bisa tahu?”

“Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku sudah merasa aneh. Cara dia memandangmu sangat berbeda. Lagi pula, aneh banget kamu marah besar karena dia tidak mengenalimu. Hari itu kamu marah, pasti karena telah terjadi hal yang besar. Selain itu, aku melihat panggilan masuk di hape-mu. Hampir setiap malam ada panggilan masuk darinya. Sebenarnya aku ingin bertanya, tapi Aku tidak ingin kamu berbong. Makanya aku diam saja. Aku ingin kamu sendiri yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Ahirnya aku menceritakan kisah cinta monyetku. Aku juga memberitahunya kalau Rio menyatakan cinta lagi padaku. Aku pikir ini akan jadi malam terakhirku dengan Ted. Dia akan marah dan memutuskanku. Aku sudah mempersiapakan mentalku. Wajar saja kalau semua itu terjadi.

“Lalu bagaimana?” tanya Ted.

“Bagaimana apanya?”

“Kamu ingin kembali padanya?”

“Apa maksud kamu? Apa ini berarti kamu akan memutuskanku?”

“Tidak, semua keputusan ada ditanganmu. seperti yang aku katakan tadi, Aku akan lakukan apapun asalkan kamu bahagia. Mungkin kamu tidak menyadarinya, kamu sudah banyak membantuku, merubahku menjadi orang yang lebih baik dan tidak akan pernah ada orang yang menggantikan posisimu dihatiku. Tapi, kalau keberadaanku yang membuatmu tidak nyaman. Aku bersedia pergi.”

Semua kalimat yang keluar dari mulutnya, membuatku semakin membenci diriku sendiri. Sekarang apa yang harus aku lakukan, perasaanku bimbang. Hatiku sakit dan pikiranku terbagi dua.

“Jangan menangis lagi, ayo tidur. Ga baik seorang gadis tidur lewat tengah malam.”

“Ted, amafkan aku.”

“Jangan berpikir terlalu banyak! aku tutup telponnya ya.”

“ya.”


***

Sudah satu minggu sejak malam itu. Besok adalah hari wisudaku. Ayah dan inuku tidak bisa datang dengan alasan pekerjaan. Mereka memang tidak pernah benar-benar memikirkanku. Apa pun yang kulakukan, mereka tidak peduli. Yang mereka tahu, aku adalah anak berprestasi sejak SD. Sisanya, hanya aku yang tahu.

Siapa yang akan menjadi waliku? mungkin hanya aku satu-satunya orang yang tidak ditemani keluarga saat wisuda. Melihat orang-orang disekelilingku, aku jadi iri. Walaupun tidak dapat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik dan lulus hanya dengan nilai pas-pasan, tetapi mereka tertawa bahagia dengan keluarganya masing-masing. Sedangkan aku, aku sendirian.

Dulu, aku pikir Ted akan menemaniku. Tapi setelah kejadian malam itu. Aku tidak berani berharap. Dia tidak pernah lagi menghubungiku, begitu juga Rio.

Aku segera keluar dari ruangan wisuda, aku ingin pulang. Tidak ada gunanya aku berlama-lama di sana. Aku berjalan sendirian, melewati banjir manusia di pelantaran parkir kampus. Di depan gerbang aku melihat seseorang yang aku kenal. Itu Rio, dia menungguku. Begitu melihatku dia lansung mendekat dan memberikan setangkai bunga plastik berwarna merah. Rasanya senang sekali, ternyata aku tidak sendirian.

Dari kejauhan aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku.

“Vrea,..”

“Vrea,..”

Aku dan Rio melihat ke semua arah, mencari sunber suara itu. Kami melihat seseorang dengan jas lab putih sedang berlari tersengal-sengal ke arahku.

“Selamat ya Vrea, amaf aku terlambat!” nafasnya tidak teratur.

“Kenapa berlari seperti itu?” dia seperti sedang di kejar anjing.

“Angkot yang aku tumpangi mogok di depan Minang Plaza, aku takut kamu sudah pulang, makanya aku berlari.”

Aku jadi terharu, tidak di sangka ternyata ada banyak orang yang mempedulikanku.

Kemudian keadaan menjadi hening. aku tidak tahu harus berkata apa. Dua orang yang aku suka sedang berhadapan, dan aku menjadi wasit diantara mereka. Apa yang harus aku lakuakan.

“Mungkin ini saat yang tepat untuk memberikan jawabanmu Ve!” ucap Rio.

“Aku….” aku tidak tahu harus bagaimana.

Ted hanya memandangiku dan tidak mengucapakan apa-apa, sepertinya dia juga ingin tahu jawabanku.

“Aku tidak akan marah, aku akan terima apa pun jawabanmu! aku hanya butuh kepastian.” lanjut Rio.

Ted pun tersenyum dan mengangguk. Mereka terlihat kompak sekali. Tidak seorang pun yang benar-benar menahanku. Mereka menyerahkan keputusan di tanganku. Apa yang seharusnya aku lakukan.

Rio, boleh aku bicara dengan Ted dulu?”

“Tentu.”

Aku mmengajak Ted menjauh agar Rio tidak bisa mendengar apa yang aku katakan pada Ted. Kemudian, aku mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Ted. Dengan perasaan ingin tahu, Ted membuka amplop itu dengan tergesa-gesa. Di dalamnya ada undangan ke Australia. Surat itu datang tiga hari yang lalu.

“Kamu lulus? apa aku harus mengucapakan selamat?” wajah Ted berubah menjadi sendu, seperti tiga setengah tahun lalu.

“Maaf Ted, aku tidak mau kamu menungguku.”

“Ya, aku sangat mengerti apa artinya ini. Kamu akan pergi dengan Rio?” Ted seperti hampir menangis.

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak sanggup.

“Hhmmm…. Walaupun kita jauh. Aku harap kamu tidak pernah melupakannku.”

“Tentu.” air mataku mulai mengalir.

Ted memberikan surat itu padaku. Membelai rambutku sambil tersenyum.

“Aku akan baik-baik saja. kamu juga harus bahagia” ucapan terakhir Ted.

Lalu dia pergi, dan tidak pernah melihat ke belakang lagi.


Kemudian Rio menghampiriku.

“Apa ini berarti kabar baik untukku?” tanya Rio sambil tersenyum.
Aku hapus air mataku dan mulai bicara padanya.

“Aku sangat senang jika bersamamu. Kamu orang yang baik dan selalu bisa menyanjungku. Aku merasa seperti seorang putri dongeng saat di dekatmu. Tapi apa tidak bisa jika keadaan seperti itu terjadi jika kita hanya teman?”

“Maksud kamu?”

“Aku tidak bisa memilih, kalian bukan barang! aku tidak mau jadi orang yang egois. Aku harap kamu mengerti.”

Rio hanya tersenyum.

“Aku sama sekali tidak menyangka, kamu akan mengambil keputusan seperti ini. Kamu hampir saja membuat jantungku berhenti berdetak. Sia-sia saja aku menunggu selama ini” dengan nada bercanda.

Aku hanya tertawa mendengar perkataan Rio itu. Dia masih bisa bercanda, itu berarti aku tidak perlu menghawatirkannya.

Aku tidak mungkin memiliki mereka berdua, karena itu aku memilih untuk meinggalkan keduanya. Aku sangat beruntung, berada diantara orang-orang yang benar-benar- menyayangiku. Mereka bisa menerima keputusanku. Walaupun itu menyakiti kami bertiga.

***

Januari 2010. Sudah dua tahun aku tidak menginjakkan kakiku di Padang, kota tercinta.
Tidak ada hal mencolok yang berubah, kecuali Jalan layang di dekat Bandara yang telah selesai di bangun bahkan telah digunakan oleh beberapa kendaraan dan Minang Plaza telah berubah menjadi Basko Hotel yang ramai dikunjungi tamu.

Hal pertama yang aku lakukan adalah mengunjungi rumahku tercinta. Pasti sudah banyak debu dan terlihat menyeramkan. Sebelum beres-beres, aku putuskan berjalan-jalan ke pantai gajah. Pantai itu sangat sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang sedang bermain. Padahal, cuacanya sangat bagus, cerah tetapi matahari bersmebunyi di balik awan. Setelah cukup jauh berjalan. Aku melihat seseorang sedang duduk di bebatuan. Saat aku mendekatinya, dia melihat ke arahku. Penampilannya tidak asing. Dia tersenyum dan berkata,

“Ternyata dua tahun itu tidak lama ya?”

The End


***