Minggu, November 30, 2008

Angguk2, Geleng2(I)


"Jagain Teddy ya!"

“Ya nte…! tenang aja!”

Itulah pesan dari tante Anne di Bandara. Ia akan kembali ke Singapura setelah satu bulan di Padang. Tante Anne adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki Teddy. Orang tua Teddy meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Teddy bahkan tidak mau makan dan minum. Saat itu, Teddy baru saja diterima di jurusan kedokteran, Universitas Anadalas, Dia bahkan tidak mau ke kampus hampir satu semester lamanya. Dia nyaris kehilangan semangat hidup. Makanya tante Anne sangat menghawatirkannya.

Teddy adalah pacarku. Kami bertemu tiga setengah tahun yang lalu di pantai Gajah, tepatnya tanggal 12 Juli 2005, hari Senin, jam 04.45 pm. Ditengah suasana sore sangat sejuk, hari yang cerah tapi matahari tertutup awan, cuaca yang paling kusuka. Jarang-jarang kota Padang bisa adem seperti itu. Aku memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Biasany, aku anti banget jalan kaki, kalau ga naik angkot ya,.. naik ojek, walaupun jarak dari kampus ke rumahku ga sampai satu kilo. Hari itu rasanya sangat berbeda, mungkin karena takdir sudah memang telah merencanakan pertemuanku dengan Ted. Aku putuskan pulang melewati jalan di pinggir pantai. walaupun agak jauh dan sendirian, ga apa-apalah! sesekali.

Di sepanjang pinggiran pantai, ada gundukan batu-batu raksasa yang seharusnya menjadi pondasi jalan lintas ke Bandara. Namun sampai hari ini, tidak ada tanda-tanda proyek itu akan diselesaikan. Sudah banyak jenis-jenis rerumputan, dan sampah diatasnya, bahkan ada pohon kelapa diantara bebatuan itu. Terkesan kacau dan tidak terurus, tapi kesan yang aku dapatkan adalah sangat indah, bukan karena sampahnya tapi karena tumbuhan yang ada di diatas batuan itu.

Ditengah pemandangan itu, ada seseorang cowok yang berdiri memandang jauh kearah lautan. Sangat aneh, tapi,…

“Tampan juga” pikirku.

Tiba-tiba dia melihat kearahku, matanya berair. Terlihat jelas kalau dia sedang bersedih. Jarang-jarang ada cowok yang nangis. Penderitaannya pasti sudah sangat keterlaluan. Tapi apa peduliku, kenal saja tidak. Lagi pula, dandanannya tidak terlihat seperti kebanyakan orang yang kutemui di kampus. Dia memakai kemeja, celana dasar dan tidak lupa jasnya. Dia terus memandangku, tanpa sadar mulutku mengeluarkan kata-kata aneh.

“Kenapa, ga pernah lihat cewek cantik? sampai nangis gitu?”

Baru saja aku menyelesaikan kalimat konyol itu dia lansung pingsan.

Ya Tuhan…, tidak kusangka kalimat seperti itu bisa membuat seseorang jatuh pingsan. Aku lansung menghampirinya dan berteriak meminta pertolongan orang-orang disekitar tempat itu. Dia lansung dibawa kerumah sakit, dengan ojek tentunya. Entah kenapa aku malah menemani dan menunggunya sampai akhirnya dia sadar.

“Kamu ga apa-apa?”

Dia mengusap-usap matanya, dan melihat kesegala arah. kelihatannya dia masih pusing dan agak sedikit bingung dengan keadaan disekitarnya

“Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan di pantai Gajah!

Sebenarnya kamu kenapa?”

Sama sekali tidak ada jawaban. Dia terus melihatku, membuatku jadi salah tingkah.

“Terserah kalau tidak mau kasih tau. kamu kelihatannya sudah baikan. Aku mau pulang. Jangan lupa bayar rumah sakitnya ya!”

Aku pasang sepatu dan mengemasi tasku, bergegas untuk pulang. Saat aku menarik gagang pintu. Aku melihat kearahnya sekali lagi, memastikan dia masih melihatku atau tidak.

“Kamu siapa?”

Wah suaranya bagus, tapi agak sendu.

“Vrea,…”

Wajahnya sama sekali tidak berubah. Sambil tersenyum aku keluar dari ruangan itu. Aku tidak tanya namanya. Kupikir kami mungkin tidak akan bertemu lagi.

***

Perkiraanku sepertinya salah, keesokan harinya kami bertemu lagi di Miang Plaza. Dia sedang melamun sambil memperhatikan eskalator. Aku putuskan untuk menyapanya.

“Eh, orang aneh” membuat dia kaget.

“Lagi ngapain?” tanyaku

“Namaku Teddy”

Cuma itu. ga ada lanjutannya dan tanpa ekspresi.

“Kayaknya aku ganggu neh! aku pergi ya…!” sambil melangkah pergi.

“Eh tunggu, kamu dah makan?”

“Belum”

“Ayo makan” sambil melangkah pergi ke arah yang berlawanan denganku.

Apa yang seperti itu bisa disbut sebuah ajakan? yang benar saja?

“Aku yang traktir!” lanjutnya, sambil menoleh ke arahku.

Tanpa pikir panjang aku lansung mengikutinya. Ada yang bilang, menolak rezeki itu ga baik. Aku bukanlah tipe orang yang akan menyia-nyiakan pepatah yang penuh makna seperti itu.

Kami makan di KFC lantai dua, Minang Plaza. Dia makan lahap sekali, seperti sudah dua hari tidak lihat makanan. Setelah itu, dia memintaku untuk mendengarkan ceritanya. Disitulah aku tahu dia kehilangan orang tuannya. Kemudian, kami jadi sering ketemu, hingga akhirnya jadian seperti sekarang ini. Yang terpenting, dia sudah berubah. Sekarang dia bukan lagi si wajah besi berair.

“Ted kemana ya? Tantenya sudah mau pergi, tapi dia malah ngilang!” gerutuku.

“Tidak apa-apa Vrea, tante masuk dulu. Salam saja buat dia” ucap tante Anne sambil melepaskan pelukannya, dan menghilang dibalik ruangan besar yang berkaca hitam itu.

***

Namaku Vrea Anstasya, anak tunggal dan tidak punya saudara. Kuliah di jurusan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Padang. Sekarang sedang menyiapkan skripsi dan siap-siap buat wisuda. Aku termasuk anak yang pintar karena mendapat kepercayaan menjadi Asdos dan dapat menyelesaikan studi dalam waktu tiga setengah tahun. Aku punya pacar,Ted, begitulah aku biasa memanggilnya. Sekarang aku sedang menunggunya di Bandara. Bukan karena dia pulang dari luar kota atau luar negeri. Sebenarnya kami sedang mengantarkan tante Anne, keluarganya Ted, tetapi dia malah yang menghilang.

Aku terus memperhatikan orang-orang yang ada di bandara, tapi Ted tetap tidak kelihatan. Tiba-tiba saja seseorang yang aku kenal muncul dari keramaian manusia. Dia memakai kaca mata hitam dan menyandang ransel yang sangat besar. Aku terdiam dan tidak sanggup melakukan apa pun. Penampilannya agak berubah, rambutnya agak panjang dan tubuhnya terlihat lebih tinggi. Namun, aku masih mengnalinya, dia Fario, cinta pertamaku. Sudah lama sekali kami tidak bertemu. Aku bahkan sudah tidak ingat kapan terkahir kalinya kami berada dalam jarak sedekat ini.

Dia berjalan menuju taksi yang tepat berada di depanku. Dia melewatiku begitu saja. Tidak heran, waktu enam tahun cukup lama untuk merubah penampilan seseorang atau untuk melupakan seseorang. Dia bahkan tidak menyadari keberadaanku. Aku terus memandanginya seperti patung, hingga dia naik taksi dan akhirnya taksi yang dia tumpangi menghilang.

“Vrea…!”

“Vrea…!”

“Hoi…, kamu kenapa?” tanya Ted mengagetkanku.

“Ng…nggak!” jawabku kaget.

“Trus, kamu lihat apa? aneh banget!”

“Tadi ngeliat kembang api! makanya terkagum-kagum.” jawabku spontan.

“Siang-siang begini? kamu ngigo?”Ted heran.

“Hehe,… mungkin juga!” cengengesan sambil garuk-garuk kepala.

“Gara-gara kamu juga sih, ngilang ga jelas. Tane Anne dah pergi tuh!” sahutku nyolot.

“Iya, nanti aku telpon aja. ga usah panik gitu!”

“Oh, klo gitu ngapain lagi kita disini, ayo pulang!”

Kan kamu yang bengong, dasar aneh!” gumamnya sambil membelai rambutku.

Senyumnya sangat lembut. Terlebih lagi, sikapnya yang dewasa membuatku kehilangan kata-kata.

Sebelum mengantarku pulang. Kami memutuskan bermain di Pantai Gajah, tempat kami bertemu pertama kalinya. Kami bermain air, berlarian dan berteriak-teriak ga jelas. Setelah lelah bermain, kami duduk di atas gundukan batu-batu raksasa.

“Sebentar lagi kamu wisuda! sudah punya rencana?” Ted membuka pembicaraan.

“Aku sedang ikut ujian beasiswa S2 ke Australia, tapi ga taulah.”

“Jauh banget, Aku ditinggal donk?” tanya Ted menyeringis.

“Kamu ga mungkin di ajak kan? kamu masih harus menyelesaikan kuliah disini.”

Ted sama sekali tidak menjawab kalimatku.

“Cuma dua tahun, ga lama kok! lagi pula, aku belum tahu lulus ato ga!”

“Kalau begitu, aku akan berdoa semoga kamu ga lulus” ucapnya sambil tersenyum.

“Ah,.. jahat…!”

Dia tahu aku akan memukulinya, karena aku sedang mengambil sepatuku. Dia spontan berlari, dan aku mengejarnya sambil ngomel-ngomel.

***

Tepat jam 08.00 am.Ujian untuk mendapatkan beasiswa dimulai. Aku sangat berharap yang aku usahakan hari ini tidak akan sia-sia. Aku sangat ingin ke Australia, itulah impianku sejak kecil. Tidak dipungkiri, ada banyak cara kesana. Namun, ini adalah kesempatan yang sangat bagus. Aku tidak ingin melewatkannya.

Sekarang jam 03.00 pm. Semuanya sudah aku lalui. Mulai dari ujian tertulis, sampai tes wawancara. Aku merasa sangat percaya diri, karena aku telah menyiapkannya sejak lama. Semoga aku salah satu dari orang-orang yang beruntung. AMIN!!!!!

Aku bergegas keluar dari gedung itu, aku akan menemui Ted dan memberi tahunya kalau hari ini berjalan sangat lancar. Aku akan pamer, mahasiswa jurusan bahasa inggris itu tidak kalah dengan jurusan kedokteran.

Saat aku melewati tempat parkir, sekali lagi aku melihat Fario. Dia sedang berjalan menuju mobilnya. Sedikit kaku dan tidak percaya, tapi aku memberanikan diri untuk menyapanya.

Rio???” sapaku.

Dia agak heran dan tidak mengenaliku. Dia melihatku dengan pandangan yang sangat aneh.

“Ini Ve, kamu ga ingat!?” begitulah dia biasanya menyebut namaku.

“………………………..” dia berpikir sejenak.

“Waw..., kamu sangat berbeda. Aku bahkan hampir tidak mengenali kamu!”

“Tidak juga, aku hanya memanjangkan rambut dan melepas kaca mataku, tidak ada yang special.”

“Kenapa kamu disini?”tanya Fario menyelidiki.

“Ujian Beasiswa ke Australia, kamu?”

“Aku salah masuk kantor!”

Kami sama-sama tertawa. Menertawakan Fario yang tidak kehilangan sifat cerobohnya.

Rasanya aku sedang terbang ke awan, sudah lama aku tidak bicara seperti ini dengannya. Dia membuatku lupa dengan alam disekitarku.



Bersambung....